anaksemang.com

selamat datang di blog ini
mungkin bisa menambah pengetahuian anda

Fish

Selasa, 20 Juli 2010

sumatera selatan budaya

I. PENDAHULUAN

Pagelaran Kesenian berupa Pagelaran Seni Tari dan Lagu daerah antar Kabupaten / Kota se Provinsi Sumateran Selatan, merupakan sarana apresiasi masyarakat dalam mendukung program pemerintah dalam upaya pengembangan seni budaya, sekaligus dapat menjadi ajang pengembangan kreatifitas para pekerja seni budaya daerah di Sumsel.

Pagelaran Seni Tari dan Lagu daerah di Kabupaten Muara Enim adalah kegiatan perdana yang akan dilaksanakan pada setiap tahunnya seperti kegiatan-kegiatan event Pagelaran dan Festival Seni Budaya di Provinsi Sumatera selatan. Ini merupakan kegiatan tahunan Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Sumatera Selatan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Muara Enim, juga merupakan upaya peningkatan kerjasama lintas sektoral antar Kabupaten / Kota dan Provinsi dengan Kabupaten / Kota se Sumatera Selatan.

Kegiatan ini juga sebagai bahan pembelajaran bagi Mahasiswa semester dua Fkip PGRI Palembang dalam berapresiasi pada sebuah pertunjukan karya seni budaya daerah di Sumsel. Study lapangan ini menjadi tolak ukur pada pengembangan kreatifitas Mahasiswa terhadap pengamatan seni pertunjukan yang nantinya diharapkan Mahasiswa dapat memberikan pendapat serta persentasi dalam kegiatan ini.

II. PERSPEKTIF KEARIFAN SENI BUDAYA LOKAL

Pentingnya arti sebuah keraneka ragaman budaya tradisi maupun kreasi menumbuh kembangkan kecintaan masyarakat akan budaya sendiri dan diharapkan dapat dikonsumsi secara layak. Seni pertujukan tradisi daerah sering di pandang sebelah mata, konsep yang ditawarkan bertemakan monoton bahkan menjenuhkan. Apresiasi dan minat masyarakat terkontaminasi terhadap pengaruh budaya globalisasi, sehingga seni pertunjukan tradisi daerah hanya bisa dinikmati pada saat-saat tertentu saja, seperti pada event pagelaran seni ini. Hal ini dapat menimbulkan culture study yang bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya. Generasi muda masih enggan membudayakan seni budaya daerah. Hanya sebagian pesen saja yang mengeluti seni tradisi ini.

Salah satu program dari Visit Musi adalah mengembangkan seni budaya daerah dan aspek Pariwisata daerah yang ada di Sumatera Selatan. Program ini bukan semata-mata di dukung oleh Pemerintah, seniman-seniman lokal, melaikan peran serta masyarakat yang mendukung dan mewujudkan Sumatera Selatan sebagai salah satu Sentral Daerah Wisata yang unggul di Indonesia. Sekarang bukan hanya Bali saja yang menjadi Icon Indonesia sebagai aset wisata yang produktif di Indonesia dan dikenal di mancanegara.

Pagelaran atau festival-festival seni budaya di Sumatera Selatan adalah peran pendukung pemerintah dalam memfasilitasi kelestarian seni dan budaya yang ada di Sumatera Selatan. Pada era 90’an kegiatan bersekala tingkat Provinsi ini hanya berpusat di kota Palembang saja. Sejak perkembangan otonomi daerah yang kian pesat, kegiatan ini mampu dilaksanakan di Kabupaten kota yang ada di Sumatera Selatan. Diantaranya Festival Danau Ranau, Festival Selero, Fertival Basemah, Festival Sebiduk Semare. Pertukaran informasi kebudayaan ini sangat efektif untuk dilaksanakan dalam mewujudkan masyarakat Sadar Budaya. Selain memperkenalkan dan menambah wawasan seni tradisi maupun kreasi daerah, dapat juga mengetahui sisi ruanglingkup adat dan istiadat masyarakat di Sumatera Selatan yang beraneka ragam dan daerah-daerah wisata yang menjadi ikon masing-masing kabupaten kota.

III. PAGELARAN SENI TARI DAN LAGU
DAERAH DI KABUPATEN MUARA ENIM
TANGGAL 28 S.D 30 APRIL 2010

Tim Newsroom Kominfo. Muara Enim sebagai Tuan Rumah Pageralan Seni Tari dan Lagu Daerah se- Sumatera Selatan tahun 2010. Kegiatan yang diramaikan juga oleh Pameran dan Bazar ini dibuka Gubernur Sumatera Selatan yang diwakili oleh Wakil Bupati Muara Enim Bapak H. Nurul Aman di Gedung Kesenian Putri Dayang Rindu Kabupaten Muara Enim. Kegiatan Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah se-Sumsel berlangsung tanggal 28 s/d 30 April 2010.

Pada Acara Pembukaan tanggal 28 April 2010 pada pukul 10.00 wib diawali oleh Tari Sambut yang merupakan Tarian Persembahan Kabupaten Muara Enim sesuai Perda tahun 2004. Pembukaan dihadiri oleh Kadin Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan, Unsur Muspida, Kodim, Polres, Kadin / Kaban / Kakan / Kabag lingkup Pemkab Muara Enim, Undangan dari Kabupaten / Kota, peserta lomba dari Kabupaten / Kota se-Sumsel juga undangan lainnya.

Dalam laporannya Kadin Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan Jonsen, SH mengatakan bahwa Kegiatan Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah ini diselenggarkan oleh Pemerintah Kabupaten Muara Enim bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan didukung oleh Dinas Kabupaten / Kota se- SumSel bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan Seni Budaya Daerah serta menambah wawasan dan apresiasi masyarakat tentang Budaya Daerah, terjadinya tukar-menukar informasi kebudayaan khususnya kebudayaan yang ada di Sumatera Selatan. Lomba Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah tahun 2010 ini diikuti oleh 15 Kabupaten/Kota diantaranya Lahat, Linggau, Prabumulih, Muba, Mura, OKU Timur, OI, OKI, Pagar Alam. Kepada Tim Juri Kadin Pariwisata dan Kebudayaan berpesan agar objektif dalam memberikan penilaian.

Dalam kata sambutannya Gubernur Sumatera Selatan yang diwakili oleh Wabup Muara Enim bahwa di tahun 2010 ini ada kegiatan yang sama di Sumsel yaitu Festival Serelo di Lahat dan Festival Sriwijaya ke-19 di Palembang. Beliau mengharapkan partisipasi dalam kegiatan tersebut dan meningkatkan kecintaan terhadap Kebudayaan Daerah . Ditambahkan juga bahwa kegiatan tersebut untuk pengembangan objek wisata khususnya Kabupaten Muara Enim guna meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat sesuai Misi Sumatera Selatan ”Sumatera Selatan Sejahtera dan Terdepan Bersama Masyarakat Cerdas yang Berbudaya”. Pembukaan Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah resmi dibuka ditandai dengan pemukulan gendang oleh Wakil Bupati Muara Enim.

IV. EVENT PAGELARAN SENI TARI DAN LAGU DAERAH
DI KABUPATEN MUARA ENIM

Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah di Kabupaten Muara Enim di mulai pada hari rabu tanggal 28 april 2010. Peserta yang hadir ada 13 Kabupaten / Kota di provinsi Sumatera Selatan diantaranya Kabupaten Oku Timur, Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, Kota Lubuk Linggau, Kota Prabumulih, Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyu Asin, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kota Palembang, Kabupaten Oku Selatan. Hanya 2 Kabupaten yang di tidak dapat menghadiri Pagelaran ini yaitu Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Empat Lawang.

Jadwal Kegiatan Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah di gedung kesenian Dayang Rindu Kabupaten Muara Enim.

A. Hari Pertama Rabu Tanggal 18 April 2010
1. Pukul 14.00 wib Penampilan Tim Kesenian kabupaten OKU Timur.

Tim kesenian OKU Timur menampilkan Tari “Tradisional Sadah-Sadai” kemudian dilanjutkan dengan penampilan Lagu wajib Umak dan serasan Sekate, serta lagu pilihan dengan judul “Tosikan” yang berarti tempat kami. Lagu ini menceritakan tentang suasana di kabupaten Oku Timur. Pada akhir penampilan tim kesenian OKU Timur menampilkan Tari Kerasi “Behuma” yang menceritakan tentang orang berladang akan menjaga kebunnya dari ganguan hama yang merusak ladang mereka. Dengan cara menyalakan obor di ladang mereka agar hama yang merusak tanaman mereka takut untuk masuk ke kebun mereka.


2. Pukul 15.30 Penampilan Tim Kesenian Kabupaten Lahat

Kabupaten Lahat mengawali dengan Tari “Gajar Bejuang”, Tari Tradisi Gajah Perjuang menceritakan tentang tarian pejuang dan pertarungan gajah adat pejuang Lahat. Kemudian dilajutkan dengan lagu Wajib Serasan Sekate, lagu Umak dan lagu daerah Lahat yang berjudul “Jawaban Surat”. Tari kreasi “Kekebang” yang mengisahkan tentang keresahan para petani padi terhadap burung-burung pengganggu yang memakan tanaman padi. Para petani kemudian menggunakan kekebang atau orng-orangan sawah untuk mengusir burung-burung liar.


3. Pukul 17.30 wib. Penampilan Tim kesenian Kota
Pagaralam

Kota Pagaralam menampilkan Tari Tradisional Tari “Siwar” Tari ini menggambarkan perlawanan masyarakat terhadap pafra penjajah pada masa dulu. Dilanjutkan dengan membawakan lagu wajib Umak, Serasan Sekate. Dan lagu pop daerah Kota Pagaralam Dendang melayu. Tari penutup menampilkan Tari Kreasi ‘Nighu’ menggambarkan rasa suka cita pemuda pemudi melaksanakan Pesta panen padi.


4. Pukul 20.05 Wib Penampilan Tim Kesenian Kota Lubuk
Linggau

Diawali dengan Tari Tradisi Tari “Tura” merupakan tarian rasa syukur dengan cara menaburkan beras kunyit sebagai doa untk para pejuang, juga beras kunyit yang telah di campur dengan cabai berguna untuk melawan penjajah dan mengambil senjata penjajah. Dilanjutkan dengan lagu wajib Serasan Sekate dan Umak. Dan di sambung denga lagu daerah kota Lubuk Linggau berjudul Watervang. Penutup pagelaran, tim kesenian Lubuk Linggau menampilkan tari kreasi “Monengsepati” yang mengisahkan tentang legenda pejuang di Lubuk Linggau dan hingga sekarang masih menjadi panutan masyarakat setempat.


5. Pukul 2o.45 wib Penampilan Tim Kesenian Kota Prabumulih

Tim Kesenian Kota Prabumulih menampilkan Tari Tradisi “Nagantat Penganten” tari ini dilaksanakan masyarakat Kota Prabumulih ketika ada yang melaksanakan hajatan pernikahan. Sebagai penanda pelepasan masa lajang. Sang pengantin biasanya akan di berikan selendang oleh taman-temannya sebelum mereka melangsungkan adat pernikahan. Dilanjutkan dengan dengan lagu wajib Serasan Sekante dan Lagu Umak. Dan di tutup dengan tari kreasi “Mehama” yaitu menggambarkan pemuda pemudi menangkap ikan dengan cara mengeruhkan air sungai.


6. Pukul 21. 30 Wib Penampilan Tim Kesenian Kabupaten Musi
Banyuasin

Menampilkan tarian Melincak Ringik dan dilanjutkan dengan lagu wajib Serasan Sekate serta Umak, Tari Mare-mare menjadi penutup pada hari pertama Pagelaran Seni Tari dan Lagu daerah Di Kabupaten Muara enim.

B. Hari ke Dua Kamis Tanggal 29 April 2010

1. Pukul 10.00 wib Pemanpilan Tim Kesenian Oku Selatan

Menampilkan tari tradisi “Kuandai Sambung Mani” dan dilanjutkan dengan Penampilan Lagu wajib Serasan Sekate dan Umak.

2. Pukul 10.45 wib Penampilan Tim Kesenian Kabupaten Banyu Asin

Tim Kesenian Kabupaten Banyu Asin menampilkan Tari Tradisi “Betangas” tari ini ,menggambarkan sepasang pengantin yang akan melangsungkan pernikahan satu minggu sebelum menikah. Betangas berupa mandi uap yang menggunakan rempah-rempah dan bunga setaman yang menjadi bahan dasar betangas bertujuan untuk menghilangkan bau badan dan agar terlihat lebih segar. Dilanjutkan dengan dengan lagu wajib Serasan Sekante dan Lagu Umak, serta lagu daerah Kabupaten Banyu Asin yang berjudul ‘Kuandang’ Dan di tutup dengan tari kreasi “Burung Kuwau” tari ini mengisahkan legenda masyarakat Banyu Asin, kepedihan hati seorang anak karena dikekang oleh orang tuanya. Kemudian Ia meminta kepada Yang Kuasa agar diberikan sepasang sayap. Ketika ia meminta tebu kapada ibunya dan ibunya tidak memberikan menjadi puncak kepedihannya. Dalam sebuah mimpi ia bertemu dengan ayahnya yang sudah tiada, di mimpi itu ayahnya berpesan agar Ia menyanyikan sebuah tembang sampai pada waktunya Iapun berubah menjadi seekor burung Kuwau.

3. Pukul 13. 30 wib Penampilan Tim Kesenian Kabupaten
Muara Enim

Tari “Antan Delapan” merupakan tari tradisi Kabupaten Muara Enim ini adalah tarian hiburan guna menyambut tamu dalam acara adat pernikahan, biasanya memakai selendang yang nantinya akan di berikan kepada tamu yang datang sebagai ungkapan selamat datang. dilanjutkan dengan lagu wajib Umak dan Lagu daera Kabupaten Muara Enim yang berjudul “Cuhup Tenang”. Ditutup dengan sebuah tari kreasi “Putri Saput Rumpai”.

2. Pukul 14. 30 wib Penampilan Tim Kesenian Kabupaten
Ogan Komering Ulu

Membuka pamentasan Tim Kesenian Ogan Komering Ulu sebuah Tari Tradisi “Ngisek”, dan Tari Kreasi “Ngibang Kinayan”

3. Pukul 15. 30wib Penampilan Tim Kesenian Kabupaten
Ogan Ilir

Tari “Ningko’an” membuka pamentasan Tim Kesenian Ogan ilir, merupakan tari pergaulan muda mudi, dilanjutkan dengan lagu wajib Umak dan serasan sekate. Ditutup dengan sebuah tari kreasi yaitu Tari “keris”.


4. Pukul 16. 30 wib Penampilan Tim Kesenian Kota
Palembang

Tari “Zapin” membuka pamentasan Tim Kesenian Kota Palembang, dilanjutkan dengan lagu wajib Umak dan serasan sekate. Ditutup
dengan sebuah tari kreasi




C. Acara Penutupan Pagelaran Seni Tari dan Lagu daerah
Kabupaten Kota se Sumatera selatan

Hari kamis malam tanggal 29 Apil 2010 adalah malam penutupan Pagelaran Seni Tari dan Lagu daerah Kabupaten / Kota se Sumatera selatan di Gedung kesenian Putri Dayang Rindu Muara Enim. Dari kategori perlombaan tersebut tim kesenian Lubuk Linggau menjadi juara umum berhasil mendapatkan I satu penyanyi terbaik Purta, juara I penyanyi terbaik Putri, juara II penyaji tari terbaik, dan juara peserta penyaji Favorit.

Menurut Bupati Muaraenim, Ir Muzakir SS, kalah dan menang merupakan hal yang biasa dalam sebuah perlombaan atau pertandingan. "Bagi yang berlum berhasil untuk bisa memacu dan memotivasi untuk berkarya lebih baik lagi. Dan sebaliknya bagi yang memang untuk tidak sombong namun untuk bisa mempertahankannya," Ke depan kegiatan seni dan budaya bukan hanya sebagai seremonial menjadi pelengkap sebuah kegiatan di suatu daerah, tetapi akan bisa menjadi bisnis industri untuk memacu perekonomian masyarakat setempat. Apalagi pada tahun 2011, ada beberapa even besar dimana Sumsel menjadi tuan rumah yakni sebagai tempat Jambore Nasional yang dipusatkan di Wisata danau teluk Gelam OKI dan tuan rumah Sea Games di kota Palembang, mbuidya tersebut bisa menjadi andalan Sumsel kedepan.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, yang diwakili oleh Dadang Irawan mengatakan tujuan kegiatan tersebut sebagai ajang pengembangan seni dan budaya serta meningkatkan apresiasi masyarakat kecintaaannya terhadap seni dan budaya daerah Sumsel. Juga untuk silaturahmi para seniman dan praktisi dalam membagi pengalaman.

V. INSPIRASI KARYA SENI TERHADAP PERKEMBANGAN
KREATIFITAS SENIMAN LOKAL

Perkembangan seni tradisi kreasi daerah dilihat dalam segi penyajian maupun keaslian tekstur dasar yang ada pada masing-masing daerah. Jika hal ini kurang diperhatikan akan menimbulkan local jenius yang berlebihan terhadap unsur kedaerahan. Banyak hal yang menjadikan seniman-seniman muda daerah di Sumatera Selatan kurang memperhatikan aspek pola gerak etnik daerah, Sehingga unsur penyajian pementasan yang menjadi aspek utama. Sah-sah saja sebuah tari kreasi tercipta dari sebuah imajenasi dengan mengispirasikan pada beragam gerak tari yang beraneka warna. Tetapi tidak melupakan gerak-gerak tradisi daerah yang akan di kembangkan. Begitu juga dengan penciptaan sebuah kaya lagu-lagu daerah dari karya-karya A. Korie Ali, Anwar Beck, Sailin. lagu-lagu daerah yang masih melekat di terlinga masyarakat Sumsel seperti kebile-bile yang telah menjadi lagu nasional, petang-petang, sayang selayak, dirut, Mutek Tighau, Semele dan masih banyak lagi.

A. Pandangan Sebuah Karya Seni

Saya mengamati beberapa pertunjukan pada tari Tradisi daerah seperti tari “Ngantat pengantin” dari Tim Kesenian Prabumulih, Tari Tradisi “betangas” dari Kabupaten Banyu Asin, merupakan sebuah adat istiadat daerah setempat yang di buat menjadi sebuah tari tradisi, sebenarnya banyak salah pengertian dari penyampaian pada sebuah tari Tradisi. Tari tradisi bukan halnya upacara adat yang di angkat ke sebuah pertunjukan dan di sebut sebagai tarian tradisi. Tetapi sebuah tarian yang terus berkembang dan diturunkan secara continue dan sudah ada batas-batas gerak yang menjadi pakem atau dasar gerak, jika di gubah atau di kreasikan akan mengurangi nilai tradisi tarian tersebut. Seperti Tari Tradisi Penyambutan tari Tanggai, atau tari tradisi “Ngibeng” dari Kabupaten Muara Enim, Tari Erai-Erai dari Kabupaten Lahat, tari “Senjang” dari Kabupaten Musi banyuasin.

ketika kembali ke sebuah penyajian kreasi daerah jusru banyak mengutamakan sebuah penyajian yang meriah dan gemerlap, tarian-tarian yang di tampilkan pada Event ini banyak mengadopsi gerakan-gerakan luar daerah Sumsel, dan hampir melepaskan dasar gerak yang ada. Antusias pencipta seni daerah Sumsel sangat banyak tetapi kreatifitas seni masih terpengaruh pada satu arah, seperti alur tarian kreasi malayu. Pengembangan gerak pada setiap tari kreasi masih belum beraneka ragam, koreografi tari kreasi yang terlihat hampir sama pada setiap kabupaten di pagelaran ini.

Penampilan oleh Tim Kesenian Kabupaten Kota Lubuk linggau. Sebuah tari kreasi daerah “Monengsepati” yang mengisahkan tentang legenda pejuang di Lubuk Linggau Monengsepati dan hingga sekarang masih menjadi panutan masyarakat setempat. Gerak tari ‘Kecak” dan tari ‘Jaipong’ serta dance mewarnai koreografer tari ini. Tari bersifat kontemporer dan menggabungkan beberapa reperensi unsur gerak. Pengembangan gerak tari ini bisa di ancungkan jempol, komposisi setiap gerak beraneka ragam, tetapi harus diolah lagi secara baik dan tidak meninggalkan pengembangan dasar gerak tari daerah. Kekurang dari segi latihan dan detail gerakkan masih terlihat jelas. Setiap penari masih memiliki gerak yang berbeda-beda, kekompakan atau keselarasan dalam hitungan belum efektif dan masih terlihat penari yang ketinggalan dalam irama. Di arasement dalam penyajian musik pengiring tarian ini, ada coor menggunakan irama tembang sunda, jika irama tersebut diganti dengan irama batang hari sembilan atau irama sastra tutur tentu akan lebih menunjukan nilai kreasi daerah.

Pada komposisi musik daerah tradisi berkolaborasi dengan musik modern menambah daftar para seniman Sumatera Selatan agar berhati-hati dalam mempertahankan eksistensi musik daerah Sumsel. Penyajian ini bayak menambahkan instrument modern yang praktis. Arransement lagu-lagu daerah pada event ini banyak mengadopsi dari perkembangan arransement lagu-lagu Zapin kreasi pop melayu, seperti lagu-lagu Iet Bustami, Siti Nurhaliza, Viktor Hutabarat. Pada penyajian perkembangan dari musik tradisi Sumatera Selatan seperti rif-rif pada aransement gitar tunggal, pukulan gendang bedana dan irama senandung tutur yang nyaris tidak terlihat pada aransement musik di event ini. Banyak menonjolkan irama pop dengan unsur lick rock sebagai penambahan harmonisasi pada iringan lagu daerah. Postmodern yang berkembang membuat beberapa seniman enggan mengambil langkah yang etnik, pengaruh sebuah aliran instant mengikuti alur dalam pembuatan aransement lagu daerah. Terkadang hal ini yang menjadi landasan agar lagu daerah bisa diterima masyarakat, simple dan easy listening serta komersil. Seperti lagu Watervang yang mengambil langkah aluran pop modern. Jika ajang lomba lagu pop daerah mungkin sangat tepat pada event ini.

Dalam sebuah pementasan iringan lagu daerah masih ada peserta Kabupaten Kota yang kurang menggunakan alat tadisi yang dikolaborasikan dengan alat modern. Misalnya Kota Prabumulih, mereka tidak memanfaatkan alat tradisi yang menjadi musik pengiring lagu daerah. Akan tetapi hanya menggunakan program style keyboard yang sudah di format sebelumnya. Jadi bukan terkesan live tetapi sudah menjadi dabbling atau musik karouke. Ini merupakan sebuah kurang efektifnya pengguasaan dari segi pemusik.


B. Observasi lapangan

Pagelaran di Muara Enim terlaksana sukses, namun masih banyak hal yang harus diperhatikan. Kondisi tempat yang belum memungkinkan, kemudian suasana yang kurang menyejukkan saat menikmati pagelaran seni tari dan lagu daerah. Apresiasi para penonton saat berlangsungnya pagelaran masih terkesan kurang menghormati antar penonton. Ironisnya beberapa penonton dari Mahasiswa FKIP Sendratarik Palembang justru yang sering membuat kurang nyamanya suasana di dalam gedung pertunjukkan, memberikan aplus saat peserta ada kesalahan tehnis alam pertunjukan, atau berdiri mengambil gambar saat pertunjukan berlangsung. Keadaan ini adalah contoh kecil masih kurangnya apresiasi terhadap sebuah pementasan karya seni.

Penampilan pembawa acara lokal pada event ini kurang begitu di perhatikan dari pihak panitia penyelenggara. Ketika peserta dari perwakilan masing-masing kabupaten kota menampilkan budaya pakaian adat daerah masing-masing, Pembawa acara dari tuan rumah hanya menyambut dengan pakaian sederhana dan terkesan tidak begitu mengarah kepada event tradisi daerah. Penyampain Promosi budaya dan wisata di Muara Enim kurang begitu valid. Evisien penggunaan lighting juga menjadi kendala, sehingga penyampaian dari peserta pagelaran belum begitu maksimal, ini terlihat dalam beberapa penampilan peserta yang tampil pada siang hari. Cahaya matahari yang masuk kedalam gedung membiaskan lighting dari panitia. Tehnis pengadan Sound System pada pagelaran ini masih kurang di perhatikan, banyak terjadi kesalahan teknis yang sering menggangu pementasan. Pada saat acara penutupan berlangsung kesalahan tehnis dari sound system nampak sering sekali terjadi. Mungkin kurangnya koordinasi dan pelaksanaan teknis yang kurang matang menjadi kendala panitia penyelenggara.

Keadaan yang tidak maksimal pada saat penyelenggaraan pagelaran seni tari dan lagu daerah ini tidak terjadi di kabupaten Muara Enim saja, setiap tahun ada beberapa event pagelaran di berbagai Kabupaten Kota di Sumatera Selatan kesalahan serupa sering terjadi. Tata panggng dan sound system serta tata lampu yang masih bongkar pasang. Pembenahan ini masih belum terlaksana. Panggung-panggung pertunjukan seni Budaya di daerah di Sumatera Selatan bersifat umum dan belum mengarah pada klasifikasi dari seni pertunjukkan yang sebenarnya. Seperti festival Tari Nusantara di Gedung JCC (Jakarta Conversi Center). Festival Teater di Gedung TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta, atau pagelaran seni budaya daerah di TMII (Taman Mini Indonesia Indah).

C. Resensi

Sumatera Selatan kaya akan seni tari maupun Seni musik tradisi ketika input ini melemah akan timbul kecendrungan dalam sebuah penilaian penyajian. Kreasi artinya bebas dalam melakukan sesuatu, siapapun dapat mengekspresikan kemampuan diri dalam menciptakan sebuah karya seni. ketika kebebasan ini menjadi acuan, maka waktu akan menelan pakem dari sebuah seni tradisi daerah.

VI. APRESIASI SENIMAN LOKAL DAN MASYARAKAT


Sebuah apresiasi terhadap suatu karya cipta yang ditampilkan dalam sebuah event-event seni budaya di Sumatera Selatan sangatlah besar, ini terlihat dalam antusias seniman-seniman lokal dalam terus produktif dalam sebuah karya seni dan masyarakat dalam menikmati seni pertunjukan. Kegiatan Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah se Sumatera Selatan yang diadakan di Kabupaten Muara Enim tanggal 28 sampai dengan 30 April 2010 bukti dari keseriusan pemerintah provinsi Sumsel dalam pelestarian seni budaya lokal.

“Ini pertama kalinya kegiatan pagelaran seni budaya yang yang di adakan di Kabupaten Muara Enim dan mendatangkan kabupaten kota se Sumatera selatan sebagai peserta. Kami dapat melihat berbagai macam tari tradisi dan kreasi serta budaya kabupaten lain, selama ini kami tidak pernah melihat itu. Sangat mendukung program ini menjadi program tahunan bagi Kabupaten Muara enim. Tetapi sayang tempatnya kurang begitu mendukung dan sulit untuk dilihat.” Jawaban ini merupakan mayoritas dari para pengunjung dan penikmat seni yang saya temui di lokasi kegiatan.

Pagelaran Bazar dan Pameran menjadi tolak ukur untuk menarik pengunjung agar dapat melihat secara langsung kegiatan berwawasan kedaerahan ini. Tetapi bagi saya sangat disayangkan volume para pengunjung tidak berimbang dengan tempat pagelaran, sehingga sangat sedikit masyarakat yang melihat. Kapasitas Gedung Kesenian Dayang Rindu Muara Enim dapat Menampung kurang lebih sekitar 800 orang.

Keberadaan event-event seperti ini sangat membantu bagi seniman-seniman lokal, selain mendedikasikan kepada kesenian tradisi mereka dapat mempertimbangkan segi–segi pengemasan pertunjukan yang layak tampil dan indah. Dalam berbagai event yang mereka ikuti mereka menuangkan hasil kreasi garapan baru untuk mengikuti kegiatan ini. Penata tari dari Ogan Ilir Nasrulah, menjadi peserta Tim merupakan hal berarti bagi dirinya dengan membawa kebudayaan daerah mereka untuk dikonsumsi dan di perkenalkan kepada masyarakat luas. Tim Kesenian yang diusungnya sudah mempromosikan seni budaya daerah sampai ke tingkat internasional sudah lima negara yang mereka datangi.

Begitu juga terhadap bapak M. Rsyid. AR, sebagai salah seorang penata tari dan pencita tari sembah kabupaten Muara Enim menambahkan bahwa kesenian tradisi sangat erat hubungannya dengan kebudayaan suatu daerah, jika hal ini tidak dilestarikan secara dini, maka lama kelamaan akan hilang. Beliau juga tercatat sebagai seniman tari Sumatera Selatan dan sudah mendapatkan penghargaan Gubernur Sumatera selatan.

VII. PENUTUP

Di era sekarang ini banyak kalangan mempertanyakan kembali tentang kehidupan seni tradisi daerah. Apakah masih potensial seni tradisi hidup di dalam kepungan budaya popular dan modern seperti sekarang ini, serta mampukah mengikuti dinamika kebudayaan sekarang yang semakin serba cepat. Belum banyak juga yang menggagas seni tradisi sebagai sarana untuk penanaman nilai-nilai kedarahan terhadap generasi muda sejak dini.

Pada umumnya orang beranggapan bahwa seni tradisi adalah kuno, ketinggalan jaman, kurang trend, tidak gaul dan sebagainya, sehingga berdampak serius terhadap kehidupan seni tradisi itu sendiri, yang menyebabkan semakin terpinggirkan dalam kehidupan sekarang. Lihat saja kehidupan remaja-remaja sekarang, mereka lebih percaya diri dengan gaya kehidupan yang berbau barat, dari segi cara berpakaian, cara meluangkan seni dalam bermusik juga lebih suka dengan aliran Rock and Roll, music underground, maupun music barat yang lainnya. Melihat hal tersebut sebenarnya bukan masalah kita untuk mengadopsi berbagai gaya kehidupan barat yang dirasa lebih trend dari budaya kita sendiri. Tapi jangan begitu saja melupakan seni tradisi milik kita yang juga tidak kalah menarik dengan budaya barat. Yang perlu ketahui kehidupan mereka di sana juga timbul dari tradisi mereka yang telah di turunkan secara turun temurun dan di wariskan kegenerasi berikutnya. Apakah kita juga tidak ingin kehidupan seni ini bisa berkembang seperti halnya mereka mempertahankan music tradisi mereka ?
Untuk memposisikan dalam situasi ini perlunya kearifan untuk memandang, memperhatikan, dan juga memperlakukan seni tradisi daerah dalam konteks yang semakin diperlukan. Bagaimana cara mengangkat kehidupan seni tradisi dalam ranah yang lebih tinggi, agar mampu bersaing dengan kebudayaan luar yang semakin lama berkembang luas dilingkungan bangsa ini.

Dari sisi kebudayaan sebenarnya keberadaannya diakui atau tidak, telah berhasil dalam membawa peradaban Indonesia ke dalam pergaulan yang lebih luas, dan juga memiliki potensi untuk menaikkan kapasitas pencitraan Indonesia di mata dunia. Seperti yang sudah terjadi saat ini banyak orang dari negara-negara lain yang berbondong-bondong datang ke Indonesia hanya untuk mempelajari berbagai macam jenis music tradisi yang ada di nusantara ini, contoh banyak orang belajar musik tradisi Bali, Jawa, Yogyakarta, Kalimantan, Padang, maupun music tradisi lainnya. Dan juga seperti mempelajari tari-tarian tradisi nusantara ini yang begitu banyak ragamnya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan kedatangan mahasiswa asing yang belajar di berbagai universitas di Indonesia yang memiliki jurusan seni, selain itu juga terjadi peningkatan kedatangan wisatawan mancanegara ke daerah yang memiliki kebudayaan-kebudayaan daerah.

Perlunya pengembangan dan pelesterian seni tradisi sejak dini merupakan pola masyarakat yang menghargai makna dan symbol kebudayaan sendiri. Pada Pagelaran Seni Tari dan Lagu Daerah di Kabupaten Muara Enim merupakan langkah-langkah efektif dalam mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai kedaerahan dalam masyarakat. Jika hal ini terus di dukung oleh semua pihak, kedepan bangsa Indonesia tidak di klaim lagi oleh pihak-pihak luar sebagai bangsa yang amnesia terhadap apresiasi nilai-nilai budaya daerah sendiri.
VII. LAMPIRAN LAMPIRA
PARA PEMENANG PAGELARAN SENI TARI DAN LAGU
DAERAHSE-SUMATERA SELATAN DI KABUPATEN MUARA
ENIM TAHUN 2010

PENYAJI TARI TERBAIK
TERBAIK I KOTA PALEMBANG
TERBAIK II KOTA LUBUK LINGGAU
TERBAIK III KAB. OKU SELATAN
TERBAIK IV KAB. OKU INDUK
TERBAIK V KAB. MUSI RAWAS
TERBAIK VI KOTA PRABUMULIH

PENYANYI PRIA TERBAIK
TERBAIK I KOTA LUBUK LINGGAU
TERBAIK II KAB. BANYUASIN
TERBAIK III KAB. OKU TIMUR

PENYANYI WANITA TERBAIK
TERBAIK I KOTA LUBUK LINGGAU
TERBAIK II KAB. OGAN ILIR
TERBAIK III KAB. MUARA ENIM

ARANSEMENT LAGU TERBAIK
TERBAIK I KAB. LAHAT
TERBAIK II KAB. MUBA
TERBAIK III KOTA PAGARALAM

PESERTA FAVORIT
KOTA LUBUK LINGGAU


3. FHOTO KEGIATAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar